Cyanide Crime: 10 Sumber Natural Sianida dalam Kehidupan Sehari-Hari

cyanide

Benarkah sianida ada dalam makanan kita sehari-hari? Seberapa berbahayanya bagi tubuh kita?

Kasus Keracunan Sianida (Cyanide) di Indonesia

Indonesia lagi- lagi dikejutkan dengan kasus racun Sianida. Sekitar 5 tahun yang lalu, Indonesia sempat geger akibat kasus Kopi Sianida. Kopi beracun yang membunuh korban dalam waktu singkat di sebuah kafe. Bulan April ini, kembali Indonesia dibuat kaget karena adanya kasus Sate Sianida. Di Bantul, Yogyakarta, seorang anak tidak berdosa berusia 10 tahun menjadi korban salah sasaran dari dendam wanita kepada seorang pria.

Apakah Sianida Itu?

Mengutip detik.com, hidrogen sianida (Hydrogen Cyanide) adalah gas tak berwarna, atau berwarna biru pucat pada temperatur tertentu. Namun dalam bentuk garam, racun ini berbentuk kristal putih yang larut dalam air. Racun ini umumnya berbau khas seperti almond. Bau ini bisa disamarkan dengan mudah apabila bercampur dalam makanan, sehingga korban biasanya tidak menaruh curiga.

Menurut situs Kementerian Lingkungan Hidup, Natrium Sianida (Sodium Cyanide) dijual berupa padatan berbentuk kristal kubus atau serbuk, granul, serpihan yang dapat menyerap uap air sehingga menjadi cairan, tidak berwarna hingga putih, berbau seperti almond. Jika kering, natirum sianida tidak berbau, tetapi jika menyerap air berbau sianida atau dikenal sebagai bau almond.

Sianida konsentrat atau buatan banyak dijual dalam bentuk garam berwarna putih seperti kalium sianida misalnya. Garam sianida ini beredar bebas dan dijual sebagai obat pembasmi hama, racun tikus, hingga racun ikan. Berikut beberapa kegunaan sianida dalam kehidupan sehari – hari:

  • Sebagai insektisida dan mitisida untuk hasil panen bahan yang tidak disimpan atau untuk fumigasi truk.
  • Sebagai racun dosis tunggal atau berulang untuk melindungi lapangan rumput (pastures), range land dan hutan dari serangan anjing hutan  atau rubah.
  • Digunakan untuk pewarna, pembersih optik, pertanian, obat-obatan, pengkelat atau seskuitering dan secara khusus digunakan untuk produksi nitril, karbilamin, asam lemak siano, logam berat sianida, alat pemanas, kepingan baja dan senyawa untuk pembukaan lahan untuk penanaman jamur (clearing smut).
  • Industri asam sianida dan beberapa senyawa sianida.
  • Komponen larutan elektroplating, elektrografi(EG)-Zn, komponen garam untuk menguatkan baja, ekstraksi emas dan perak dari tambang, depresan penggumpalan pada pemisahan hasil tambang.
  • Pembersih logam, industri pewarna, nylon, pengkelat, dan bahan untuk rodentisida

Sumber Sianida Alami dalam Kehidupan Sehari – Hari

Siapa sangka, sianida yang bisa membunuh begitu cepat dalam hitungan menit, ternyata juga terdapat pada benda dan makanan kita sehari – hari. Ya, sianida merupakan senyawa yang umum terdapat pada beberapa benda dan makanan. Berikut beberapa sumber sianida yang ada di sekitar kita:

Asap Rokok

Asap rokok merupakan sumber sianida yang umum sekaligus tidak disadari. Ya, rokok mengandung banyak sekali racun yang terlarut dalam asapnya, salah satunya adalah sinida. Sianida secara alami terdapat dalam tembakau, yang jika dibakar dalam bentuk rokok akan melepaskan sejumlah sianida ke udara. Tidak heran, banyak orang yang ketika menghirup asap rokok merasakan gejala paparan sianida pada organ pernapasan, seperti hidung dan tenggorokan perih, mual, sakit kepala atau pusing.

cyanide
Asap ROkok merupakan sumber cyanide yang umum ada di lingkungan kita. (Sumber gambar: Google)

Tanaman

Mengutip situs sehatqu.com, ada beberapa tanaman yang mengandung sianida alami. Tanaman yang mengandung racun ini, umumnya berasal dari famili rosaceae, seperti:

  • Apel
  • Pir
  • Plum
  • Aprikot
  • Peach

Sianida pada buah-buahan tersebut, terdapat di bijinya. Sehingga, Anda masih aman mengonsumsi daging buah maupun kulitnya.Selain itu, sianida juga terdapat pada singkong. Sehingga, saat mengolah singkong, penting bagi Anda untuk membersihkannya secara benar.Jumlah racun sianida yang ada di tanaman-tanaman ini tidak cukup banyak hingga bisa menimbulkan gejala tertentu. Jadi, selama Anda tidak mengonsumsinya secara berlebihan, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Baca juga mengenai zat anti nutrisi makanan disini.

Asap Hasil Pembakaran Sampah

Membakar sampah kini sudah tidak diperbolehkan lagi. Salah satu alasannya adalah karena pembakaran akan menghasilkan sejumlah racun hasil pembakaran di udara, ayng dapat mencemari udara lingkungan. Apabila sampah terdiri dari plastik, karet, atau sutra, asap bakarannya dapat menghasilkan sianida.

Sianida Sebagai Racun

Racun merupakan media pembunuh yang sering digunakan oleh wanita. Sebab, racun menghasilkan efek yang cepat, serta tidak membutuhkan tenaga yang besar untuk melumpuhkan korban.

Cara Kerja Sianida Dalam Tubuh

Jika masuk ke dalam tubuh, zat ini akan menghambat kerja enzim cytochrome-x-oxidase, yakni enzim yang berfungsi mengikat oksigen untuk memenuhi kebutuhan pernapasan sel-sel tubuh. Jika enzim ini terganggu akibat sianida, sel-sel tubuh akan mati.

Dalam beberapa kasus pembunuhan, sianida jadi penyebabnya. Jika tubuh keracunan sianida, jantung dan otak akan mati paling cepat. Sebab, kedua organ ini paling banyak membutuhkan oksigen.

Gejala Keracunan Sianida

Jika racun sianida termakan atau terminum, akan terjadi pendarahan pada mukosa (lapisan luar) lambung, dengan darah berwarna pink atau cherry red akibat oksigen menumpuk di darah dan tidak terserap oleh sel. Gejala keracuna sianida dapat berbeda – beda, tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, serta lama paparan. Berikut efek sianida terhadap kesehatan seperti yang diulas oleh situs Kementerian Lingkungan Hidup:

Terhirup

Paparan Jangka Pendek

Dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan selaput lendir. Dalam konsentrasi yang sedikit lebih dari 5 mg/m3, kabut sianida alkali dilaporkan dapat menyebabkan luka dan pendarahan pada hidung. Jika terserap dalam jumlah yang cukup, dapat terjadi efek sistemik, sebagaimana halnya pada paparan tertelan jangka pendek.

Paparan Jangka Panjang

Paparan oleh senyawa sianida dalam konsentrasi yang rendah dengan jangka waktu yang lama dilaporkan dapat menyebabkan penurunan selera makan, sakit kepala, kelemahan, mual, pusing dan gejala iritasi pada saluran pernafasan bagian atas.

Tertelan

Paparan Jangka Pendek
  • Dosis yang sangat besar dapat mengakibatkan kehilangan kesadaran secara tiba-tiba, seringkali disertai kejang dan kematian, umumnya dalam jangka waktu 1 hingga 15 menit. 
  • Konsentrasi yang lebih rendah dapat mengakibatkan korosi pada selaput lendir lambung, bau amandel yang tidak enak pada nafas, rasa terbakar, rasa tercekik pada tenggorokan, erupsi noda bintik pada wajah, pengeluaran air liur, mual dengan atau tanpa disertai muntah, kegelisahan, rasa bingung, pusing, perasaan gamang, rasa lemah, sakit kepala, denyut nadi cepat, palpitasi, kekakuan pada rahang bagian bawah, dan opisthotonos, Laju dan kedalaman pernafasan umumnya meningkat pada awalnya, dan kemudian menjadi lambat dan terengah-engah.
  • Dapat terjadi pengeluaran urin diluar kemauan serta diare. Pada tahapan kejang-kejang, dapat diikuti dengan kelumpuhan. Bola mata dapat menonjol keluar dan manik mata dapat menjadi tidak reaktif. Kerusakan terhadap saraf optik dan retina, serta kebutaan kemungkinan dapat terjadi.
  • Mulut dapat berbusa, yang terkadang disertai darah, merupakan indikasi terjadinya edema paru.
  • Jika kematian terjadi, biasanya dalam jangka waktu 4 jam dan dapat disebabkan karena terhentinya fungsi sistem pernafasan atau anoreksia pada jaringan.
  • Gejala lain dapat meliputi nyeri dada, bicara tidak teratur, dan tahapan stimulasi pada susunan saraf pusat yang bersifat sementara yang disertai hypernea dan sakit kepala.
Paparan Jangka Panjang

Paparan oleh senyawa sianida dalam konsentrasi yang rendah dengan jangka waktu yang lama dilaporkan dapat menyebabkan penurunan selera makan, sakit kepala, kelemahan, mual dan pusing.

Kontak Dengan Mata

Paparan Jangka Pendek

Debunya dapat menyebabkan iritasi. Larutan bersifat korosif dan dapat menyebabkan kemerahan, rasa nyeri, penglihatan kabur, dan luka pada kornea yang serius. Dengan adanya air mata, dapat terjadi toksisitas sistemik, menyebabkan efek sebagaimana halnya pada paparan tertelan jangka pendek.

Paparan Jangka Panjang

Efek bergantung pada konsentrasi dan durasi paparan. Kontak berulang atau terus-menerus dengan senyawa korosif dapat menyebabkan radang selaput ikat mata atau efek sebagaimana yang halnya pada paparan jangka pendek.

Kontak Dengan Kulit

Paparan Jangka Pendek

Kontak langsung dengan larutan natrium sianida (sodium cyanide) dalam air atau bentuk padatan pada kulit yang lembab dapat menyebabkan kemerahan, rasa nyeri, luka bakar, dermatitis kontak dan tukak yang penyembuhannya bersifat lambat. Sodium Cyanide dapat terserap melalui kulit, khususnya bila terdapat luka yang terbuka. Jika terserap dalam jumlah yang cukup, dapat terjadi efek sistemik, sebagaimana halnya pada paparan tertelan jangka pendek.

Paparan Jangka Panjang

Paparan cyanide berulang atau terus-menerus dapat menyebabkan dermatitis dan ruam sianida, dengan gejala gatal-gatal, erupsi berupa makula, papula, dan vesikula. Paparan oleh senyawa sianida dalam konsentrasi yang rendah dengan jangka waktu yang lama dilaporkan dapat menyebabkan penurunan selera makan, sakit kepala, kelemahan, mual dan pusing

Penanganan Terhadap Keracunan Sianida

  • Jika diduga terjadi keracunan cyanide, berikan inhalasi amil nitrit melalui hidung atau mulut selama 30 detik atau tiap menit sampai proses intra vena selesai dan dilanjutkan dengan Na nitrit.
  • Terapi dengan Na nitrit : dewasa, 300 mg (10 ml iv selama 5 menit); anak-anak dengan Hb normal, 0,15 0,33 ml/ kg lebih dari 10 ml selama 5 menit iv.
  • Terapi dengan Na nitrit yang diikuti dengan  Na tiosulfat : dewasa 12,5 g iv; anak-anak  1,65 mL/ kg larutan 25%.
  • Pada kondisi hipotensi, infusikan 10 – 20 mL/kg larutan isotonik. Jika masih tetap terjadi hipotensi berikan dopamin (5-20 mcg/kg/menit) atau norepinefrin (dewasa infusi dimulai dengan 0,5 – 1mcg/menit; anak anak dimulai dengan 0,1mcg/kg/ menit).
  • Pada kondisi asidosis: berikan Na bikarbonat  1milliequivalent/kilogram, iv, untuk pasien asidosis berat (pH < 7,1), pada kondisi asidosis ini sulit untuk menentukan antidotum yang sesuai.
  • Pada kondisi kejang : berikan benzodiazepine IV; diazepam (dewasa 5-10 mg/kg), jika perlu ulangi tiap 5 menit; anak-anak 0,2-0,5 mg/ kg, jika perlu ulangi tiap 5 menit;  atau berikan lorazepam (dewasa  2 – 4 mg); anak-anak (0,05-0,1mg/kg). Lanjutkan dengan phenobarbital, jika seizures muncul kembali setelah pemberian diazepam, berikan 30 mg (dewasa) atau 10 mg (anak-anak > 5 tahun).
  • Pada methemoglobinemia, berikan metilen/ toluidin blue, jika kelebihan diberi nitrit.

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *