Friendly Bacteria: Mengenal 4 Genus Bakteri Usus di Pencernaan Kita

bakteri usus

Seberapa banyak bakteri usus di tubuh kita?

Bakteri Usus: Penghuni Tetap Tubuh Kita

Komunitas bakteri pada pencernaan manusia didominasi oleh 4 jenis bakteri, dengan jumlah sekitar 100 triliun bakteri. Dua jenis bakteri utama, Bacteroidetes dan Firmicutes, mengisi sekitar 95% dari total keseluruhan bakteri; kebanyakan dari organisme ini adalah anaerob (tidak memerlukan oksigen), seperti spesies Bacteroides dan Clostridium. Dua jenis lainnya adalah Actinobacteria (misalnya Bifidobacterium species) dan Proteobacteria.

Genus bacteroidetes, bakteri bulat gram positif, antara lain adalah Peptostreptococcus sp., Eubacterium sp., Lactobacillus sp., dan Clostridium sp. Sisanya seperti diulas di hellosehat antara lain adalah Streptococcus thermophilus, Saccharomyces boulardii, Bifidobacteria bifidum, dan Bifidobacteria lactis.

Baca juga mengenai probiotik disini.

Fungsi Bakteri Pada Pencernaan

Bakteri yang tinggal di pencernaan manusia, memiliki banyak manfaat bagi tubuh manusia. Seperti dilansir dari jurnal ini, berikut adalah manfaatnya:

Membantu Pencernaan

Bukan rahasia lagi bahwa bakteri di usus kita turut bekerja membantu pencernaan. Bantuan tersebut antara lain adalah membantu menguraikan karbohidrat yang tidak tercerna oleh enzim pencernaan manusia. Karbohidrat tersebut akan melewati usus halus dalam keadaan tidak tercerna atau tercerna sebagian, dan akan sampai pada bagian usus besar dimana terdapat banyak bakteri pencernaan. Bakteri – bakteri ini akan menguraikan karbohidrat tersebut menjadi short-chain-fatty-acid, alias asam lemak rantai pendek atau disebut juga SCFA. SCFA ini merupakan sumber makanan utama dari sel epitel di usus besar. SCFA juga bisa digunakan oleh jaringan otot dan tulang, serta jaringan lemak (untuk lipogenesis).

bakteri usus
Bakteri di Usus Besar Membantu Memproduksi SCFA dari Karbohidrat yang tak tercerna. (Sumber: Google)

Sejumlah penelitian juga mengungkapkan bahwa, sekitar 20% asupan harian asam amino esensial seperti lisin dan treonin ternyata juga diproduksi oleh bakteri di pencernaan.

Penelitian juga menyebutkan bahwa, terdapat perbedaan bermakna jenis dan jumlah mikrobiota pada penderita obesitas bila dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan normal. Hal ini menunjukkan adanya peranan bakteri usus terhadap patofisiologi obesitas.

Sintesis Vitamin

Bakteri pencernaan juga membantu tubuh menyuplai vitamin larut air seperti vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B5 (asam pantotenat), B7 (biotin), B9 (folat), serta B12 (kobalamin). Selain itu, bakteri pencernaan juga turut membantu sintesis vitamin K, vitamin yang penting untuk proses pembekuan darah.

bakteri usus
Banyak anggota dari vitamin B kompleks yang disediakan oleh bakteri usus kita. (Sumber: Google)

Membantu Menjaga Kesehatan Mental

Bakteri usus juga memiliki peranan penting dalam kesehatan mental kita. Berdasarkan situs alomedika, ternyata produk-produk mikrobiota di saluran cerna bisa mempengaruhi perkembangan otak. Hal inilah yang disebut sebagai brain-gut axis. Mekanisme pasti untuk komunikasi antara mikrobiota saluran cerna dan otak masih belum diketahui secara pasti. Penelitian pada mencit menunjukkan bahwa, ketiadaan mikrobiota saluran cerna pada masa perkembangan otak menyebabkan berbagai gangguan neurologis dan psikiatri. Mencit germ free (mencit yang dihilangkan mikrobiotanya) mempunyai perilaku impulsif dan hiperaktivitas, defisit memori dan kemampuan learning.

Penelitian oleh Messaoudi, et al. menemukan bahwa pemberian preparat probiotik yang berisi Lactobacillus helveticus dan Bifidobacterium longum pada 19 wanita sehat selama 30 hari bisa menurunkan distres psikologis dan kadar kortisol.

Suplementasi diet dengan polyunsaturated fatty acid docosahexaenoic acid (DHA) pada mencit yang diberi perlakuan isolasi sosial ternyata dapat menurunkan perilaku kecemasan dan depresi. Hal ini berhubungan dengan perubahan komposisi mikrobiota saluran cerna akibat suplementasi DHA.

Baca juga mengenai omega seperti DHA disini.

Membantu Menjaga Imunitas Saluran Cerna

Penggunaan antibiotik secara berlebihand apat membunuh bakteri baik pada pencernaan kita. Akibatnya, keseimbangan antara bakteri baik yang hidup pada usus kita, dengan bakteri jahat yang masuk lewat pencernaan (misal makanan yang tidak higienis) akan terganggu. Akibatnya, bakteri jahat dapat berkembang biak dengan leluasa dan menimbulkan penyakit pencernaan seperti diare. Kondisi ini termasuk salah satu efek samping penggunaan antibiotik. Gejala diare biasanya dimulai sekitar 4 hingga 9 hari setelah Anda mengonsumsi obat. Pada kebanyakan kasus, diare karena antibiotik bersifat ringan dan tidak membutuhkan penanganan khusus. Diare biasanya akan membaik dalam beberapa hari setelah konsumsi antibiotik dihentikan.

Kesimpulan

Bakteri usus ternyata memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan tubuh manusia. Upaya menjaga agar bakteri usus tetap dapat berfungsi dengan baik perlu dilakukan agar tubuh senantiasa sehat dan bisa berfungsi dengan optimal.

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *